Kabupaten Indramayu (Newssidak.id, Jawa Barat)_ STIKes Kabupaten Indramayu bersama Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan judul “Pemberdayaan Kader Kusta Berbasis Inovasi Edukasi dan Deteksi Dini untuk Menurunkan Stigma dan Kecacatan di Desa Rambatan Kulon, Indramayu.”
Program yang memperoleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut dilaksanakan di aula Balai Desa Rambatan Kulon Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu Jawa Barat pada Rabu(12/8/2026).
Kegiatan diikuti oleh Pemerintah Desa Rambatan Kulon, Kader kusta desa, Kepala Puskesmas Lohbener beserta jajaran, tokoh masyarakat serta tim pelaksana dari STIKes Indramayu dan Politeknik Negeri Indramayu.
Ketua Tim Pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat dari STIKes Kabupaten Indramayu, Wiwin Nur Aeni,mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 yang mendapatkan dukungan hibah dari Kemendiktisaintek.
Menurutnya, kolaborasi antara STIKes Indramayu dan Politeknik Negeri Indramayu dilakukan dengan menggabungkan kompetensi di bidang kesehatan dan sistem informasi kota cerdas.
“STIKes berkolaborasi dengan Politeknik Negeri Indramayu dalam kegiatan ini karena program yang dilaksanakan berkaitan dengan kesehatan, khususnya penyakit kusta. Selain kegiatan edukasi dan pemberdayaan kader, program ini juga didukung dengan pengembangan aplikasi KUSTARA yang dikembangkan oleh tim Politeknik Negeri Indramayu,” terang Wiwin.
Ia menjelaskan, program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai penyakit kusta, khususnya masyarakat Desa Rambatan Kulon.
“Tujuan kami adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kasus kusta masih ditemukan di beberapa wilayah Kabupaten Indramayu dan stigma terhadap penderita kusta juga masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi dan pemahaman yang benar bahwa kusta dapat diobati dan penularannya dapat dicegah melalui deteksi serta pengobatan secara dini,” tambahnya.
Selain meningkatkan pemahaman masyarakat, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja kader kesehatan dalam melakukan deteksi dini terhadap warga yang memiliki tanda atau gejala yang mengarah pada kusta.
“Melalui peningkatan kapasitas kader, apabila ditemukan warga yang diduga atau terindikasi sebagai suspek kusta, kader dapat segera mengarahkan warga tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan,” kata dia.
“Harapannya, hasil evaluasi program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dan kemampuan kader. Pembinaan kader juga diharapkan terus dilakukan secara berkelanjutan, sementara aplikasi KUSTARA dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan deteksi dini dan pemantauan kasus,” harap Wiwin.
Sementara itu, tim Politeknik Negeri Indramayu, Moh Ali Fikri, menjelaskan bahwa salah satu inovasi utama dalam program tersebut adalah pengembangan KUSTARA, sebuah sistem informasi yang dirancang untuk mendukung proses edukasi, skrining, pencatatan serta pemantauan deteksi dini kusta secara terintegrasi menggunakan teknologi Progressive Web App (PWA) yang dapat diakses melalui https://kustara.id dan mampu di instal pada smartphone.
Menurut Fikri, kolaborasi tersebut merupakan upaya mengintegrasikan bidang kesehatan dengan pemanfaatan teknologi informasi sehingga proses deteksi dan tindak lanjut dapat dilakukan dengan lebih cepat dan sistematis.






