Hari Ke-3 Napak Tilas Padjajaran: Abah Anton dan KDM Hadiri Kirab Budaya Tatar Sunda di Kabupaten Tasikmalaya

oleh -30 Dilihat
oleh

Kabupaten Tasikmalaya (Newssidak,id, Jawa Barat) _Kirab Budaya “Napak Tilas Padjadjaran” dalam rangka Peringatan Milangkala Tatar Sunda yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat berlangsung meriah di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, budayawan, serta puluhan ribu masyarakat yang antusias mengikuti jalannya kirab.

Pada awalnya, kirab yang mengusung Mahkota Binokasih dijadwalkan berakhir di Kampung Naga, sebuah desa adat yang menjadi ikon budaya Sunda. Namun, atas pertimbangan potensi kemacetan di jalur menuju lokasi, Gubernur memutuskan untuk mengalihkan titik akhir kirab ke Pendopo Kabupaten Tasikmalaya.

Kirab diawali dengan rangkaian prosesi budaya yang menampilkan tarian tradisional, iring-iringan kuda pengawal, serta kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih sebagai simbol kejayaan Tatar Sunda. Kegiatan ini juga diramaikan berbagai atraksi seni budaya tradisional sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.

Dalam rangkaian Hari ke-3 bertajuk “Nyukcruk Galur Galunggung”, turut hadir Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Iendra Sofyan, serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Hadir pula Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, dan tokoh budaya Ketua MASDA Jabar Anton Charliyan.

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya menjalankan amanah karuhun dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur demi kesejahteraan rakyat.

“Naon nu dilakonan hiji amanah ti karuhun, dedehan, welasan, asihan. Ulah aya rakyat nu gering teu kaubaran, ulah aya nu teu bisa sakola,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kirab budaya tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam menjaga serta menghidupkan nilai-nilai budaya Sunda.

“Kegiatan ini bukan hanya seremoni, tetapi juga upaya memperkuat identitas budaya dan kebersamaan masyarakat Jawa Barat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Anton Charliyan, menyampaikan bahwa kirab budaya ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya Sunda, khususnya dalam mengenang kejayaan Padjadjaran sebagai simbol persatuan dan kearifan lokal.

Ia menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih memiliki makna filosofis “penuh kasih sayang”, yang mencerminkan harapan agar pemimpin menjalankan pemerintahan dengan kebijaksanaan dan cinta kasih demi kesejahteraan rakyat.

“Kirab ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi momentum untuk mempererat persaudaraan, menanamkan semangat kebangsaan, serta menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tasikmalaya menyerahkan naskah kuno “Amanat Galunggung” kepada Gubernur Jawa Barat sebagai pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur. Ungkapan “Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke” menjadi pesan mendalam bahwa masa kini tidak terlepas dari sejarah masa lalu.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri menempuh rute dari Kampus Universitas Cipasung menuju Komplek Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, melewati sejumlah titik strategis hingga berakhir di Pendopo Kabupaten.

Kegiatan ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya sekaligus pengingat bagi generasi penerus akan pentingnya menjaga identitas dan kearifan lokal dalam membangun masa depan Jawa Barat yang maju dan berkarakter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.