Kabupaten Indramayu (Newssidak.id, Jawa Barat) – Di tengah naiknya harga BBM dan Gas, para pedagang jajanan kaki lima kini dihantam beban baru: Harga plastik kemasan yang melambung.
Bagi penjual cilok, siomay, hingga batagor, kenaikan harga kantong plastik dan wadah bening yang terjadi hampir setiap hari ini benar-benar mencekik.
Dilema pedagang jajanan :
• Modal Naik Terus: Plastik adalah komponen wajib, namun harganya terus merangkak naik tanpa jeda.
• Harga Jual “Mati”: Pedagang tidak berani menaikkan harga jual (misal dari Rp5.000 ke Rp6.000) karena takut pembeli lari. Menurunkan porsi pun berisiko diprotes pelanggan.
• Keuntungan Terkikis: Akhirnya, pedagang terpaksa mengorbankan margin keuntungan mereka sendiri demi bisa tetap jualan.
“Harga plastik naik hampir tiap pagi. Mau naikan harga cilok, nanti nggak laku. Kita benar-benar terjepit di tengah,” keluh Wamin,salah satu pedagang kecil,Senin(20/4/206)
Kondisi ini menunjukan betapa rentannya ekonomi mikro kita. Plastik yang terlihat sepele ternyata menjadi penentu hidup-matinya usaha kecil saat biaya operasional tak lagi rasional.
Menurut kamu, langkah apa yang paling efektif bagi pedagang kecil untuk bertahan tanpa harus menaikkan harga jual ?







