Buntut Tuduhan Kirab Mahkota Binokasih, Tim Masda Jabar Beri Pemahaman Khusus bagi Anggota Dewan

oleh -37 Dilihat
oleh

Kabupaten Garut (Newssidak.id, Jawa Barat) –  Tim Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar) menghadiri audiensi di Gedung DPRD Kabupaten Garut pada Jumat (8/5/2026), setelah menerima undangan mendadak dari Komisi IV DPRD Garut pada malam sebelumnya, Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.

Audiensi tersebut digelar menyusul munculnya pertanyaan dan kritik dari kelompok masyarakat yang tergabung dalam Organisasi Pemuda Akhir Zaman terkait pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih yang sebelumnya berlangsung di wilayah Garut.

MASDA Jabar diwakili Tim RANCAGE MASDA Jabar Koordinator Kabupaten Garut, Kang Oos Supyadin, SE., MM., yang dikenal sebagai aktivis pemerhati sejarah dan budaya, khususnya kawasan Garut Selatan.

Turut hadir dalam audiensi tersebut pimpinan dan anggota Komisi IV DPRD Garut, perwakilan MUI Garut, tokoh pondok pesantren, Disparbud Garut, dewan kebudayaan, dewan kesenian, dewan adat, ormas Islam, serta Organisasi Pemuda Akhir Zaman selaku pemohon audiensi.

Dalam forum tersebut, terdapat dua hal utama yang dipertanyakan oleh kelompok pemohon, yakni terkait tata cara penghormatan Gubernur Jawa Barat terhadap Kareta Kencana yang membawa Mahkota Binokasih, serta penampilan arak-arakan patung yang dianggap menyerupai kepala buta atau makhluk menyeramkan.

Menanggapi hal tersebut, MASDA Jabar menyampaikan sejumlah penjelasan historis dan budaya. Pertama, dijelaskan bahwa Kerajaan Sunda Pajajaran merupakan fakta sejarah yang harus dipahami sebagai bagian dari wawasan masyarakat Sunda. Salah satu bukti sejarah itu adalah keberadaan Mahkota Binokasih yang hingga kini tersimpan dan terawat di Museum Sumedang Larang sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda Galuh Pajajaran.

MASDA Jabar juga menjelaskan keterkaitan historis Garut dengan perjalanan penyelamatan Mahkota Binokasih pada masa runtuhnya Pajajaran. Disebutkan bahwa Kerajaan Timbang Anten di kawasan Gunung Guntur Garut memiliki peran penting dalam menjaga marwah Pajajaran melalui amanat dan piagam penyelamatan kerajaan Sunda di masa lampau. Karena itulah, Garut dianggap memiliki hubungan historis kuat dengan kegiatan Kirab Napak Tilas Pajajaran.

Terkait penghormatan Gubernur Jawa Barat yang dianggap berlebihan oleh sebagian pihak, MASDA Jabar menilai tata cara tersebut masih dalam batas kewajaran sebagai bentuk penghormatan budaya. Menurut mereka, tradisi menyilangkan tangan di dada sambil berdiri maupun duduk merupakan bentuk penghormatan khas masyarakat Sunda dan Jawa terhadap simbol-simbol leluhur.

“Penghormatan tersebut bukan bentuk ibadah ataupun penyembahan, melainkan bagian dari etika budaya dan penghormatan terhadap simbol sejarah,” jelas perwakilan MASDA Jabar dalam forum audiensi.

MASDA Jabar juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan sikap husnudzon serta memahami perbedaan antara penghormatan budaya dengan praktik ritual keagamaan.

Sementara terkait arak-arakan patung yang dipandang menyerupai berhala, MASDA Jabar menegaskan bahwa hal tersebut merupakan karya seni dan bagian dari kearifan lokal sebagaimana Ondel-Ondel di Betawi, Sisingaan di Subang, Wayang Golek di tanah Sunda, maupun berbagai ikon budaya daerah lainnya.

Menurut MASDA Jabar, karya seni tidak semestinya langsung dipersepsikan sebagai bentuk penyembahan. Selama tidak dijadikan objek sesembahan atau dianggap sebagai Tuhan, maka hal tersebut murni merupakan ekspresi seni budaya.

Ketua Umum MASDA Jabar, Abah Anton Charliyan, yang juga pernah menjabat sebagai Kapolwil Priangan wilayah Garut, turut memberikan pandangan terkait persoalan tersebut. Ia menyampaikan bahwa di Garut memang terdapat kelompok-kelompok masyarakat dengan pemahaman keagamaan yang cukup keras sehingga memandang penghormatan terhadap simbol atau benda sebagai sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Namun demikian, Abah Anton menegaskan bahwa patung, simbol budaya, maupun karya seni baru dapat disebut berhala apabila disembah dan diposisikan sebagai Tuhan.

“Kalau hanya dipajang, dirawat, dihormati sebagai karya seni atau simbol budaya, saya kira tidak perlu langsung dicap sebagai berhala,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, MASDA Jabar juga menilai bahwa polemik tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah maupun pelaku budaya agar setiap kegiatan adat dan budaya disertai narasi atau penjelasan yang utuh kepada masyarakat. Langkah itu dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman akibat perbedaan sudut pandang.

Menurut mereka, kurangnya sosialisasi dan pemahaman budaya menjadi salah satu penyebab rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap adat dan tradisi leluhurnya sendiri.

Di akhir penyampaiannya, MASDA Jabar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga toleransi dan saling menghormati, baik dalam kehidupan beragama maupun kegiatan adat dan budaya.

“Hayu urang silih hormati, silih bagi pangarti, silih angkat darajat, silih asih, silih asah jeung silih asuh. Itulah nilai budaya Sunda yang diwariskan leluhur kita,” tutup perwakilan MASDA Jabar dalam audiensi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.