Para Aktivis Hidupkan Kembali Kesenian Lokal Indramayu Lewat Festival Budaya

oleh -118 Dilihat
oleh

Kabupaten Indramayu (Newssidak id Jawa Barat)_ Terik matahari tak menyurutkan antusiasme warga menghadiri Festival Budaya di lapangan bola Desa Kenanga Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu, Minggu (26/4/2026),justru seiring waktu jumlah penonton kian banyak.

Mereka berkumpul demi menyaksikan ragam kesenian lokal yang ditampilkan di atas panggung sederhana di tengah lapangan. Meski tak besar, panggung itu menjadi ruang ekspresi sekaligus pengingat kekayaan budaya daerah.

Berdasarkan pantauan di lokasi, penonton terlihat fokus menikmati setiap pertunjukan yang kini mulai jarang ditemui. Sejumlah tarian ditampilkan bergantian, mulai dari Tari Serimpi, Tari Sintren, Tari Berokan, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Kelana hingga Tari Jaipong Balaganjur.

Menariknya, para penampil bukanlah penari profesional dari sanggar besar, melainkan warga desa yang telah berlatih khusus untuk tampil di festival tersebut.

Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, organisasi yang selama ini aktif dalam isu perlindungan perempuan dan anak. Ketua yayasan, Yuyun Khoerunnisa, mengatakan bahwa festival budaya ini rutin digelar sejak 2021 dengan konsep berkeliling desa.

“Kami ingin memperkenalkan kembali kekayaan budaya Indramayu, khususnya kepada generasi muda. Kegiatan ini sudah konsisten dilakukan sejak 2021,” kata Yuyun.

Menurutnya, kesenian lokal tidak boleh punah di tengah derasnya pengaruh budaya luar seperti Barat dan K-Pop yang kini lebih digandrungi anak muda.

“Padahal budaya Indramayu tidak kalah. Kami ingin menumbuhkan rasa bangga agar anak muda mencintai budayanya sendiri,” tambahnya.

Sejumlah kesenian seperti tari topeng diketahui memang masih kerap ditampilkan dalam acara resmi, namun, kesenian lain seperti berokan dan sintren mulai jarang terlihat.

Lewat kegiatan ini, Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu mencoba memberi ruang agar pelaku seninya bisa terus berkembang.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian yakni Tari Berokan. Penonton tampak antusias, bahkan banyak yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel.

Tari berokan dikenal sebagai kesenian khas masyarakat pesisir Indramayu. Penarinya mengenakan kostum hewan mitologi menyerupai macan. Selain sebagai hiburan, tarian ini juga memiliki nilai ritual, seperti tolak bala dan bersih desa.

Menariknya, dalam festival ini tari berokan dibawakan oleh penari perempuan, yang biasanya identik dengan penari laki-laki.

“Kami bangga karena perempuan juga bisa melestarikan kesenian berokan,” kata Yuyun.

Suasana semakin meriah saat Tari Sintren dipentaskan. Tarian ini dikenal memiliki unsur magis, di mana penarinya dipercaya mengalami kesurupan saat pertunjukan berlangsung.

Dalam prosesi, penari dimasukan ke dalam kurungan, kemudian pawang membacakan mantra. Setelah itu, penari keluar dan menari dalam kondisi tidak sadar. Saat penonton melempar saweran, penari akan pingsan.

Aksi tersebut membuat penonton terpukau. Bahkan, banyak yang naik ke panggung untuk ikut memberikan saweran.

Yuyun menegaskan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya anak muda.

“Kami ingin memberi alternatif kegiatan positif. Daripada melakukan hal negatif, lebih baik menikmati dan belajar budaya sendiri,” ujarnya.

Antusiasme warga menjadi bukti bahwa kesenian lokal Indramayu masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, kesenian seperti berokan dan sintren diharapkan terus hidup dan kembali berjaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.